Bukan Kelalaian, Inilah Cara Negara Bekerja di Aceh
Sebulan pasca bencana yang menewaskan 1.135 orang, militer bergerak cepat sementara bantuan kemanusiaan dibiarkan tertinggal. Lebih dari satu bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun bagi rakyat Aceh, bencana ini tidak pernah benar-benar berlalu. Ia tidak berhenti ketika air surut. Ia berlanjut dalam bentuk yang lebih sunyi dan mematikan: penyakit di pengungsian, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, kecelakaan di jalan-jalan yang terputus, dan kematian yang terus bertambah jauh setelah fase darurat awal. Data resmi per 25 Desember 2025 mencatat 1.135 orang tewas akibat banjir Sumatera. Angka ini terus bertambah tepat satu bulan setelah bencana terjadi. Korban terbanyak berasal dari Aceh Utara, disusul wilayah-wilayah lain di Sumatera. Tidak semua korban meninggal pada hari pertama bencana; sebagian kehilangan nyawa setelahnya, dalam kondisi pengungsian dan infrastruktur yang tidak memadai. Fakta ini menunjukkan...