Harga Mati Bernama Rakyat
Oleh: Madinatul Fajar
Berpuluh tahun
hutan dipotong rapi
di bawah payung izin konsesi
Peta digambar di meja berpendingin udara,
legal dan ilegal saling tersenyum
menyebutnya pembangunan.
Peringatan ilmuwan
ditaruh di catatan kaki.
Ancaman alam
disebut hambatan investasi.
Gelondongan berangkat ke pelabuhan,
sawit diperas jadi angka devisa,
emas dikeruk demi gengsi penguasa.
NKRI harga mati.
Penduduk asli
belajar hidup dari sisa.
Berkawan dengan tanah retak,
sungai yang keruh,
dan hutan yang tinggal cerita.
Setiap tahun
mereka berjabat tangan dengan bencana,
lebih akrab
daripada pejabat
yang datang lima tahun sekali
dengan janji dan spanduk.
NKRI harga mati.
Namun hujan lupa caranya berhenti.
Langit menangis berhari-hari
tanpa pidato, tanpa seremoni.
Tebing-tebing menyerah lelah.
Sungai-sungai lupa
di mana tepinya dulu.
NKRI harga basi.
Gelondongan
yang dulu disebut kemajuan
kini jadi proyektil.
Menghantam kampung,
menenggelamkan rumah,
mengubur nama-nama.
Jalan pecah seperti janji.
Jembatan rubuh
seperti masa depan.
NKRI harga basi.
Ribuan jiwa
berpisah dari tubuhnya.
Jutaan lainnya
ditelan malam
tanpa listrik, tanpa kabar, tanpa penguasa.
NKRI harga basi.
Sehari… dua hari… tiga hari…
Mencekam
hanya di media sosial.
Empat hari… lima hari…
Orang-orang menggigil,
gelap, lapar,
menghitung sisa napas.
NKRI harga basi.
Penguasa akhirnya hadir—
dalam poster,
dalam kamera,
dalam slogan.
Berminggu berlalu.
Bantuan datang sebatas mi instan.
Harga-harga meroket.
BBM langka, elpiji menghilang.
Rakyat masih terisolasi.
Penyakit bermunculan.
Namun penguasa tetap gengsi
menerima bantuan.
NKRI harga basi.
Dan rakyat pun bertanya,
dengan suara yang tersisa:
Jika penguasa harus ditegakkan,
siapa yang selalu
harus direbahkan?
NKRI harga basi.
.jpg)
Comments
Post a Comment